Demikianlah.

Aku tak bisa menulis lebih banyak lagi dari ini rupanya. Semua tema, seluruh cerita, segenap wacana yang silang sengkarut kutulis dari halaman pertama catatan ini dibuat, pada akhirnya memang harus punya ujung. Karenanya kuharap kau, di akhir penghabisan penaku ini, masih sedia menyimak halaman terakhir yang kutulis jauh sejak perjumpaan kita entah di halaman ke berapa di waktu lalu –masih ingatkah kita.

Di halaman terakhir ini, aku memang tidak menyediakan apa-apa untukmu, tidak ada informasi baru, tidak ada happy ending, tidak ada resep rahasia, tidak juga jawaban misteri peta kuno yang sempat kau sebut-sebut di halaman ke 423 dan 302, tidak pula petunjuk-petunjuk yang kau tebar di tiap sudut halaman bersambung ke sekuel baru. Tidak, sayang. Aku terpaksa menutup novelmu ini dengan ending yang datar dan tanpa kejutan. Aku tak tau kau dimana sekarang, entah sudah merasa berkecukupan dan kehilangan dorongan untuk menulis halaman-halaman baru lagi yang selalu kau janjikan.

Perpisahan ini, sebut saja serupa simpang dimana kita dan pembaca lain melambatkan perjalanan bukan sekedar singgah tapi mulai terpikir untuk bertempat tinggal, sementara anasir-anasir lain dapat melanjutkan perjalanannya sendiri dan mulai menulis lagi dari halaman pertama, kedua, ketiga, bahkan langsung saja loncat ke halaman kesekian di pinggiran bab-bab rahasia mereka masing-masing. Aku tak tau, aku belum pernah dan tak berniat membaca semuanya mereka.

Dan kau tau sebabnya kenapa kata-kata tak lagi banyak berguna hari ini; kalimat-kalimat semakin kehilangan mantranya. Toh paragraf-paragraf ganjil, diksi-diksi yang salah tempat, argumentasi ceroboh, dan ongokan-ongokan prosa nir-makna tetap akan ditumpuk para pengarang cengeng di novel absurd ini kelak.

Kamu, seperti juga aku, bisa saja tergolong dalam kaum-kaum rendahan yang kerap kita tertawakan itu. Kita berdua yang kadang belum paham kapan saatnya memulai kalimat dan waktunya berhenti mengeja. Itu sebabnya aku masih hapal betul bait-bait pendek yang pernah kamu titipkan di sela-sela beberapa bab terdahulu, sejumput petikan lirih puisi tersedih yang membuat kita berdua sepakat untuk jangan pernah lagi berani memecah anak kalimat yang belum selesai untuk dijadikan rujukan pemahaman tentang akhir dalam huruf kapital.

Sebab hidup di dunia teks seperti ini, kita sering alpa bahwa kebenaran hanyalah benar yang diapit imbuhan ke dan an. Bahkan benar itu sendiri hanya jalinan 5 huruf yang menjebak, alih-alih berfungsi jejaring makna yang mencerahkan dan pergulatan kita untuk tidak tersesat diantara jarak dan jejak di setiap pembacaan.

Jadi mulai saat ini sayang, dari tepi catatan yang terlantar ini aku mohon berhentilah menunggu, sebab akupun takkan pernah menjemputmu. Kalau pun kita berjumpa lagi di lain waktu, Jangan sapa aku. Cukup mengangguklah dan terus berjalan di jalanmu sampai kau sampai menuju tujuanmu.

Dan halaman ini, kelak bakal kuingat seperti halaman-halaman lain yang sudah pernah kita baca di perjalanan kita sebelumnya, serupa dejavu.

Leave a Reply