Kredit Foto: Tempo.co
Kredit Foto: Tempo.co

Seseorang tiba-tiba bangkit. Bergaya layaknya pesilat, ia memasang kuda-kuda dan berjalan keliling panggung. Geraknya kaku sambil mengepalkan tangan dan meninju udara dalam berbagai jurus. Yang menarik, tak ada yang diucapkannya selain kata Bib Bob berulang-ulang setiap kali tinjunya dilancarkan.

Seseorang lain lebih ajaib lagi. Sepanjang yang bisa dilihat, kelakuannya agak minus dengan gaya tubuh lepas melenggak-lenggok. Wajahnya menyeringai dan mengucapkan tiada lain hanya desisan berbunyi Zzzzzzzz yang keluar dari bibirnya.

Tokoh lainnya, alih-alih sekedar figuran, justru menjadi subjek panggung paling dominan. Yakni empat orang duduk tegap bersidekap memandang kosong ke depan. Empat tokoh anonim inilah yang tiap kali didekati Bib Bob atau Zzzzzzzz, lantas mematuhinya dengan kompak.

Pada satu bagian, Bib Bob dan Zzzzzzzz terlibat konflik yang mengakibatkan Zzzzzzzz terluka parah dan tak mampu bangkit. Merasa menang, Bib Bob kembali mendekati empat tokoh tadi. Tapi alih-alih mengikuti apa yang disuruh Bib Bob, mereka membangkang dan membunuh Bib Bob.

Hingga di akhir kisah setelah terbunuhnya Bib Bob, secara mengejutkan mereka malah menolong Zzzzzzzz. Aksi panggung pun ditutup dengan bangunnya Zzzzzzzz yang menyerukan kepada penonton “tidak ada Bib Bob!!!”

Lampu panggung padam. Pertunjukan selesai.

Lakon Bib Bob dan Rendra

Ilustrasi singkat di atas adalah cuplikan lakon teater berjudul Bib Bob karya (alm) Rendra yang banyak diperbincangkan sejak penampilan perdananya pada 1968 di Yogyakarta, Jakarta dan kota-kota besar lain. Pentas teater berdurasi kurang lebih 1 jam ini, agak berbeda dengan teater pada umumnya yang mengandalkan dialog.

Bib Bob sebagai sebuah eksperimen, adalah salah satu pertunjukan (meminjam istilah GM) teater mini-kata yang mengandalkan kekuatan gerak dan gestur (bahasa tubuh), sebuah konsep pertunjukan yang juga menjadi ciri khas teater Rendra dan cukup langka dilakukan pegiat teater lainnya.

Bisa disimak, hampir 99 persen ucapan kedua tokoh utamanya hanya mengucap kata Bib Bob dan Zzzzzzzz secara bergantian. Selebihnya berupa simbolisasi dari gerak dan gestur para tokohnya. Tak heran bila pentas Bib Bib begitu multi tafsir, bahkan bagi pemainnya sendiri.

Mengingat naskah ini ditulis pada masa Orde Baru dan kekangan rezim saat itu terhadap gerak berkesenian Rendra, secara umum bisa dibilang bahwa Bib Bob adalah kritik terhadap kakunya sistem masyarakat yang berlaku saat itu.

Soni Farid Maulana dalam salah satu resensinya tentang lakon ini (Pikiran Rakyat, 15 November 2009) menyebutkan bahwa Bib Bob tidak hanya mengungkap terjadinya dehumanisasi dalam masyarakat modern (Orba), akan tetapi juga mengungkap soal hilangnya HAM akibat penguasa Rezim yang terlampau represif.

“Kritik sosial yang disampaikan Rendra lewat tokoh Bib Bob dan Zzzz menunjukkan pertarungan kekuasaan pada satu sisi dan pada sisi yang lain menunjukkan tentang terjadinya pendangkalan nilai-nilai kemanusiaan, yang dilakukan dengan cara penyeragaman pikiran dan daya intelektual yang secara represif dijalankan penguasa, siapa pun ia dalam konteks apa pun, dalam pengertian seluas-luasnya.” tulis Soni.

Tapi orang-orang tahu bahwa masa kelam dan represif Orba telah lama lewat. Maka ketika Bib Bob dipentaskan lagi hari ini, masih relevankah ia? Dan karenanya esai ini selain ditujukan sebagai apresiasi saya terhadap karya Rendra dan mengenalkannya kembali secara luas pada generasi pasca-Rendra, juga sebagai penafsiran ulang Bib Bob dalam konteks masyarakat kita saat ini.

Ada tiga simbol penting yang saya simak dalam menyibak Bib Bob. Pertama adalah simbol tatanan, ketertiban, keteraturan, keseragaman, bahkan keajegan yang direpresentasikan tokoh Bib Bob dengan karakter tegas, kaku, dan tangguh. Kedua adalah simbol kebebasan, petualangan, dan kematian direpresentasikan tokoh Zzzzzzzz dengan memikat.

Dan ketiga adalah simbol massa yang direpresentasikan keempat tokoh penurut tapi juga mampu jadi pembangkang. Pada simbol inilah saya meletakkan poin penting penafsiran Bib Bob dalam konteks masyarakat kita hari ini yang tengah melaju di tengah riuhnya arus informasi media, budaya populer dan konsumerisme, serta bagaimana globalisasi telah merombak segala lingkup kehidupan sosial budaya menjadi apa yang disebut mazhab Frankfurt sebagai masyarakat satu dimensi; yakni masyarakat yang disetir demi kepentingan pemodal untuk menjadi ajeg, kian seragam dan monoton. Sedangkan di sisi lain ada sekelompok kecil orang yang berupaya menyadarkan massa agar keluar dari sistem dan hidup berbeda dari orang kebanyakan.

Karena alih-alih menganggap keempat tokoh tadi sebagai pelengkap adegan, saya memandang bahwa pentas Bib Bob kita hari ini hendak menampilkan kritik budaya massa dalam bentuknya yang paling naif, yakni kultur untuk menjadi berbeda.

Bib Bob dan Kritik Budaya Massa

Pembicaraan tentang massa, yang awalnya melulu dikaji dalam ranah komunikasi, merupakan topik seksi yang hangat diperdebatkan para pakar kebudayaan. Salah satu serangan bertubi-tubi terhadap kritik budaya massa dilancarkan secara massif oleh kalangan Mazhab Frankfurt sebagai anak kandung ideologis paham Marxisme menjelang abad 20.

Keseragaman dan kepatuhan total massa mulai disadari sejak kesuksesan propaganda Hitler yang mampu menyihir seluruh bangsanya lewat peranan radio dan media komunikasi massa. Di hadapan media, masyarakat bukan lagi menjadi individu bebas ala Descartes. Massa adalah produk laten kesadaran palsu yang ditanamkan penguasa.

Baca Juga:  Netaudio dan Kita

Kritik budaya massa kemudian berkembang lewat pemikiran berbagai generasi Mazhab Frankfurt, dengan menyoroti secara khusus peranan kapitalisme yang mulai mendehumanisasikan manusia semata sebagai objek komoditi. Tak pelak, revolusi industri dan peradaban modern dianggap tak lebih sebagai bisnis negara maju bermodal membuat produk yang dibikin dari tenaga murah negara berkembang, sekaligus menjadikan negara berkembang sebagai target pasarnya.

Dampak psikisnya lantas berujung pada keterasingan masyarakat modern itu sendiri, karena tak punya pilihan selain menjadi sekrup kecil industri dan membeli lebih mahal produk-produk massal yang mereka hasilkan dengan keringatnya sendiri.

Bahkan secara fantastis, para pemikir postmodern macam Debord dan Baudrillard menawarkan pandangan lebih radikal, bahwa kita hidup dalam masyarakat tontonan (spectacle society) dimana kebutuhan itu ilusi, dan dunia ini sekedar representasi dari siapa yang punya kuasa (modal) merumuskan realita.

Dalam rangka inilah, Bib Bob bisa ditempatkan sebagai upaya keluar dari keseragaman, kepatuhan total, bahkan keterasingan masyarakat massa. Sebuah kandungan ideologi yang bisa ditelisik sejak gerakan kaum hippies dengan Flower Generation-nya menentang militer AS lewat isu anti perang; gerakan anti kemapanan anak-anak muda punk rock dengan spirit Do It Yourself; gerakan politik kiri radikal (dalam berbagai variannya) menentang pasar bebas lewat demonstrasi fenomenalnya di Seattle akhir tahun 90-an; dan di hari ini kita melihat betapa Bib Bob menjadi kultur baru generasi Y dimana menjadi berbeda adalah sesuatu hal yang wajib dilakukan, seabsurd dan sedangkal apapun tujuannya.

Bib Bob dan Kaum Pengacak Budaya

Sebelum pembahasan ini bakal terlalu jauh melebar, di bagian ini saya akan secara spesifik menyoroti satu hal saja yang menurut hemat saya penting untuk dikemukakan. Dan itu adalah upaya manusia sepanjang zaman untuk keluar dari kerumunan dan menjadi beda. Patut dicatat bahwa yang saya ajukan di sini ini bukan soal gerakan radikal yang berbasiskan penyadaran massa akan bahaya kapitalisme. Dalam tingkat tertentu, ini juga bukan soal pengejewantahan elan vital ala Chairil Anwar yang menegaskan kemerdekaan individunya lewat puisi Aku.

Tapi hal ini lebih pada keterpikatan kita pada kultur budaya alternatif yang melepaskan diri dari sistem masyarakat yang berlaku dan dianggap bobrok. Sayangnya, ‘hasrat menjadi beda’ ini bukan lantas menjadi solusi alternatif, ia justru terjebak dalam fallacy ‘apapun itu asal tidak sama dengan kalian’ untuk larut dalam hilangnya kehendak baik. Maka alih-alih mencari konsensus, kultur budaya tanding malah kerap mengacak-acak budaya yang seharusnya bisa dimapankan demi kepentingan bersama.

Penganut ideologi radikal pengacak budaya ini tampil dalam berbagai gaya, mulai dari kalangan seniman yang emoh jadi karyawan kantoran, tokoh agama yang sibuk mencela-cela cacatnya sistem pemerintahan dominan, kalangan muda yang memilih bersolek dengan produk limited buatan arthouse (cetakan pabrik itu nggak keren) sambil terus mencela siapapun yang selera musiknya maintream, hingga ke akun troll di sosial media yang getol mengutuk korup, bobrol dan busuknya perselingkuhan media – politikus tanpa sempat mengurai kompleksitas mengapa hal itu terjadi dan bagaimana kita bisa ‘menyembuhkannya’ bersama.

Alih-alih menggelar riset strategis, diskusi membangun, dan mengalang koalisi lebih banyak lagi, para Bib Bob pengacak budaya ini tampak asyik mengganggu sistem sambil menegaskan keberbedaannya dengan masyarakat kebanyakan lewat nada sinikal: “lihat aku, aku berbeda, aku bukan orang kebanyakan, hidupku penuh petualangan, profesiku seniman, aktivitasku atas nama kebebasan.”

Menafsirkan Bib Bob

Dengan menafsirkan kultur Bib Bob dan menempatkannya dalam kontekstualitas budaya hari ini, tampak begitu banyak hal yang disayangkan ketika kita ternyata mengeluarkan energi lebih banyak, waktu lebih lama dan biaya lebih boros, serta terpaksa membayar semuanya dengan kesia-siaan dari hal yang seharusnya bisa lebih berguna untuk kepentingan bersama.

Hal inilah yang membuat saya pribadi lebih berani menjadi orang kebanyakan, mengenakan pakaian yang seragam, mendengarkan musik mainstream dan tenggelam dalam keajegan tanpa perlu memandang rendah selera massa, sinis pada institusi, pesimis pada perbaikan bangsa, tanpa perlu juga mengorbankan nalar kritis dalam menyibak mana realita mana rekayasa.

Pentas Bib Bob-nya Rendra sendiri tetap menjadi karya memikat buat saya, menjadi salah satu kekayaan budaya Indonesia yang sangat patut diapresiasikan. Esai ini sendiri ditulis untuk menjadi bagian apresiasi terhadapnya.

Tapi kalaupun Bib Bob pengacak budaya kita hari ini masih hidup, berkeliaran, berkembang biak dan tumbuh subur, tak apa. Toh pada akhirnya, kultur Bib Bob ini sendiri sudah menjadimainstream di ranah maya, terutama ketika media sosial kita hari ini tak ubahnya seperti sampah tekstual yang hanya berisi makian pada rezim, celaan pada selera pasar, dan kecurigaan tak berujung pada semua institusi sosial politik.

Bib Bob sebagai kultur mainstream baru kita hari ini, jelas adalah orang kebanyakan juga yang patut dapat tempat. Pada Bib Bob inilah saya belajar memahami betapa tak terduga dan dinamisnya peradaban.