31.5 C
Jakarta
Wednesday, 17 October 2018
Home Review Kelas Sains Data Agar Tidak Tergilas Mesin

Algoritma Data Science Academy

Kelas Sains Data Agar Tidak Tergilas Mesin

Penulis: Despian Nurhidayat
Sumber Asli: Harian Media Indonesia Cetak, Kamis, 4 Oktober 2018
URL: ePaper Media Indonesia

***

Pengantar Redaksi: Mereka ialah pelopor-pelopor ekonomi baru Indonesia, yang memadukan teknologi digital, semangat pemberdayaan, dan optimisme bahwa Indonesia bisa eksis di tingkat global. Dalam memperingati 48 tahun Media Indonesia, kami menampilkan 49 pembaru ini setiap pekannya, inilah sosok ke-33.

***

JEJAK panjang selama satu dekade di bisnis rintisan, termasuk Plug and Play, membuat Nayoko Wicaksono menyadari, ada permasalahan subtansial di kalangan sejawatnya, sesama Start-up. Orang Indonesia juara dengan kreativitas dan bisnisnya, namun teknik pengolahan datanya masih perlu diakselerasi.

Nayoko Wicaksono, co-founder Algoritma. Foto oleh Media Indonesia/Bary Fathahilah
Nayoko Wicaksono, co-founder Algoritma. Foto oleh Media Indonesia/Bary Fathahilah

Kebanyakan perusahaan start-up besar merekrut orang-orang yang memiliki kemampuan pengolahan data dengan kompensasi gaji mumpuni. Adapun start-up kecil yang masih berjuang terperangkap dalam masalah ini. Temuan inilah yang mendasari Nayoko membangun Algoritma, perusahaan yang berfokus mengedukasi data science skill atau kemampuan meng­olah data.

“Awalnya, saya ketemu dengan co-founder, Samuel Chan yang sempat punya perusahaan yang dia jual ke SEGA pada 2017. Waktu itu kita cuma hangout, dia juga lagi mencari langkah selanjutnya. Dia punya passion mengajar data science skill ini,” ungkap Nayoko.

Kelas Algoritma Pertama

Nayoko dan Samuel Chan sepakat mengambil risiko dengan memulai Algoritma dari dana sendiri. Mereka memulainya dengan pelatihan pertama pada 2017 dan ternyata direspons dengan sangat baik. keyakinan mereka tentang tingginya kebutuhan pada keterampilan ini divalidasi dengan banyaknya peserta.

Nayoko dan Samuel Chan, dua pendiri Algoritma Data Science Academy
Nayoko dan Samuel Chan, dua pendiri Algoritma Data Science Academy

Nayoko menyamakan keadaan saat ini dengan masa revolusi industri pada 1800-an. Saat itu banyak pekerjaan manual yang digantikan mesin dan mengakibatkan hilangnya banyak pekerjaan. Pernyataan itu ia ungkapkan untuk menjelaskan, jika sebelum dimulainya revolusi industri, ada edukasi untuk mengajari orang-orang mengenai keterampilan-keterampilan baru.

“Ini yang sekarang sedang terjadi di Indonesia, ada visi dari Presiden Jokowi untuk masuk ke industri 4.0 dan lain-lain. Tapi, skill orang-orang Indonesia belum siap untuk masuk ke situ. Jadi saya juga ingin membantu agar bisa memperoleh visi dan mimpi itu, sebelum terlambat.”

Saktinya Rekomendasi

Saat ini, terhitung sudah lebih dari 700 orang yang telah mengikuti workshop dan akademi Algoritma. Para peserta belajar selama 3 bulan hingga mendapatkan kesempatan bekerja di perusahaan-per­usahaan mitra Algoritma yang jumlahnya mencapai hampir 30 perusahaan, mayoritas bank.

Alumnus akademi Algoritma itu pun mendapatkan surat rekomendasi  berisi proyek yang sudah mereka selesaikan selama pelatihan. “Sebenarnya lebih penting mendapatkan surat rekomendasi ini, karena surat ini menjelaskan proyek apa saja yang sudah dikerjakan. Ini yang sangat dibutuhkan dan penting bagi perusahaan,” lanjutnya.

Para pelatih di Algoritma terdiri dari 8 orang, termasuk Samuel Chan juga Nayoko. Sementara, pengajarannya berfokus pada data visualisasi dan machine learning. Data visualisasi ialah pengolahan data yang divisualisasikan secara mudah dan bisa dicerna khalayak umum.

Sedangkan machine learning, lebih kepada sistem prediksi yang dilakukan melalui data-data pribadi maupun aktivitas yang lazim dilakukan.

Perjalanan Menuju Kecerdasan Buatan

Nayoko kemudian memaparkan tahapan data science. Pertama, deskriptif analitik, jadi seperti visualisasi deskriptif. Jadi, pertama, data diolah untuk mendeskripsikan apa yang telah terjadi. Kedua, didiagnosis mengapa hal itu bisa terjadi.

Selanjutnya, mulai melihat ke depannya, predictive analitik, membuat prediksi ke depannya, sesuai prinsip kerja machine learning. “Yang paling ujung, prescriptive analitik, jadi seperti AI atau artificial intelligence, itu lebih sulit lagi. Bisa enggak memprediksi apa yang akan terjadi, tapi juga memberikan informasi atau rekomendasi apa yang harus dilakukan untuk ke depannya,” ungkap Nayoko.

Video Liputan Algoritma di MetroTV. Sumber: Youtube Channel Algoritma Academy

Ke depannya, Nayoko berharap kelas-kelas Algoritma bisa juga dibuka di berbagai kota di Indonesia, tidak hanya di Jakarta. Pasalnya, peminat akademi Algoritma juga datang dari luar kota. “Mungkin jika dibandingkan pekerjaan saya di Plug and Play, jauh penghasilannya. Begitu pula Samuel, penghasilannya mungkin baru sepertiga dari yang dulu dia kerjakan. Tapi, kita tuh melampaui perhitungan soal uang, dan hanya ingin masuk ke tujuan tertentu, purpose,” kata Nayoko.

Memilih Pulang ke Indonesia

Selain berwirausaha, Nayoko Wicaksono pun pernah menjajaki dunia kerja di sebuah korporasi di Kanada. Namun, ia mengaku kurang menikmati karena ingin mempunyai kebebasan dan mengekplorasi kretivitasnya secara maksimal. Ia terinspirasi sang ayah yang juga seorang pengusaha yang disebutnya sukses.

“Menurut saya, sebagai entrepreneur kita membuat sesuatu, berkreasi. Kalau saya kerja di tempat kerja lain, bisa saja bidang yang saya geluti akan punah. Jadi memang ke depan, semakin banyak mesin dan teknologi, semakin banyak pekerjaan di-replace mesin. Dan saya enggak mau menjadi orang yang di-replace,” ungkap Nayoko.

Namun, keyakinan Nayoko itu mendapat tantangan dari kawan-kawannya yang melabeli orang Indonesia cen­derungan malas belajar. Namun, keraguan dari sekitarnya itu justru memacu motivasi­nya. Ia ingin membuktikan, banyak orang Indonesia mau terus belajar.

“Begitu pula keluarga, awalnya mempertanyakan ketika saya pulang ke Indonesia dari Kanada. Keluarga merasa, di Kanada lebih menghasilkan  karena saya di sana sudah 12 tahun dan memiliki pekerjaan sebagai konsultan. Tapi, semua risiko sudah saya hitung, dan saya tetap pulang.”

Nayoko membandingkan, pemaknaan pada pilihan untuk bekerja telah berubah. “Di masa lalu, di Indonesia, masih lebih mementingkan uang daripada purpose. Tapi sekarang, saya lihat generasi-generasi baru, yang saya sangat res­pect, memperhitungkan bukan cuma uang, melainkan makna hidup, dampaknya apa. Itu saya rasa hebat!” (*/M-1)

***

Punya tanggapan atau opini mengenai data science? Kirim di kolom komentar postingan ini ya.

Bila ingin tau info lebih lengkap mengenai cara pendaftaran Data Science Academy di Algoritma, sila hubungi langsung ke contact form di tautan berikut
>> CONTACT ALGORITMA <<
atau via:

WhatsApp: +62-8777-8353-007
Address: Sales Office & Training Centre. 8th Floor, Block 71 Jakarta. Ariobimo Sentral, Jl. H. R. Rasuna Said X-2, No. 5, Kota Jakarta Selatan
Email: [email protected]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

WhatsApp chat WhatsApp Chat